Jalan itu pilihan – Bagian 2 July 18, 2009
Posted by dinivian in Goresan.add a comment
Sebuah paradigma lama yang memandang bagaimana seekor babi dan sejenisnya adalah diciptakan sebagai makanan bagi kita. Dan itu telah tertanam terus-menerus menjadi sebuah tradisi ditambah ketidakpernah puasan sejengkal lidah untuk terus mencicipi.
Saya tidak akan membahas panjang lebar soal itu dari berbagai sudut pandang dengan seribu satu macam alasannya. Saya hanya akan menulis melalui alunan, irama, dan intuisi kehidupan yang pernah saya lalui. Terlalu jauh untukku membahas itu, dan mungkin barangkali saya tidak punya kapasitas untuk membahas itu semua.
Sebuah kesimpulan terbesar yang akhirnya semakin jelas dari riak-riak air yang selamanya ini keruh begitu saja. Panggilan hati, kata “tak kuasa” melihat itu semua, dan bagaimana rasanya jika saya (more…)
Jalan itu pilihan – Bagian 1 July 18, 2009
Posted by dinivian in Goresan.add a comment
Ketika jalan itu engkau pilih, maka anda harus siap dengan segala konsekuensi dari pilihan itu. Dan setiap benda itu memiliki dua sisi tidak terkecuali pada logam.
Bukan sebuah keputusan yang mudah memang, ketika daku memutuskan untuk menjalani hidup meatless. Dan daku tidak pernah membayangkan akan ada hari ini dengan apa yang telah dijalani, waktulah jawaban akan semua itu. Proses ukir dan pahat yang tiada henti, sampailah pada sebuah titik dan puncak, daku memilih jalan ini. Per Juni 2004 itulah daku melepas itu semua. Meski sebenarnya hingga saat ini juga belum ikrar, sebuah pilihan yang barang kali tidak main-main untuk dijalani terutama berkaitan dengan persoalan iman. Tidak mudah memang, dan daku belum siap untuk itu. Waktu yang akan menentukannya.
Tantangan pertama tidak lepas ketika bau-bau menyengat di pinggiran warung tambal sekitar Babarsari saat daku akan pergi makan malam. Hari demi hari ujian itu terlewati.
Ada satu hal yang paling (more…)
Kata-kata mungkin tidak mampu mengungkap itu semua July 10, 2009
Posted by dinivian in Words of Love.add a comment
Malam itu daku duduk terpana
Menatap sang dewi dengan penuh tanya
Dimana itu rasa
Seperti hujan yang datang menyapa
Bukan kegengsian mengisi diri
Tapi hanya serpihan kecil yang terus menanti
Kadang tak ada jawaban yang pasti
Yang mungkin bisa mencelakai diri
Mentari tidak pernah berhenti menyinari
Kerikil-kerikilan berlari kesana kemari
Bertanya kepada sang gembala hati
Mampukah engkau menapaki
Bulan cerah menampakkan diri
Walau kadang mendung tiada pasti
Ketika ribuan mil harus dilalui
Hanya kata tegar untuk diri ini
Bulanku…
Kuatkan tali rentang itu
Berilah ruang untukku dan dirimu
Untuk mengisi nafas itu…
Menampakkan bayangan
Dan jiwaku
Bulanku…
Dari relung hatiku
Kuingin kau tahu
Kalau aku selalu cinta padamu
Dinivian Dondi,
Palembang, 10 Juli 2009
Vegetarian tidak bikin kamu pergi ke surga June 16, 2009
Posted by dinivian in Goresan, Reflection.add a comment
Ada yang aneh dengan judul artikel ini?….hahaha…tenang dulu guys, jangan cepat mengambil kesimpulan untuk ini semua. Let’s trace it!
“Vegetarian tidak bikin kamu pergi ke surga”, tukas seorang rekan kerjaku. Tersentak disaat dia mengucapkan, saya kira dia hendak melemparkan bola panas.
Tapi ternyata itu adalah obrolan spontannya dengan rekan di depan mejanya. Kata-kata tersebut terus terngiang dalam ingatan dan memanggil memori lamaku beberapa waktu lalu, ketika banyak sekali goresan yang hendak kubagikan. Tersimpan begitu saja di salah satu sudut ruang yang mungkin saja akan meledak begitu saja jika tidak terjaga dengan baik.
Tidak bermaksud mengkritisi maupun menggurui tapi, berharap menjadi sebuah cenderamata yang bisa dibagikan buat siapa saja. Ketika sebuah pilihan untuk memasuki sebuah pola hidup yang kurasakan, banyak pertanyaan yang coba kulontarkan akan setiap option yang saya pilih itu. Apa yang saya cari, misteri-misteri hidup (more…)
Surat untuk seorang Watcen April 8, 2009
Posted by dinivian in Words of Love.3 comments
Siang ini cuaca sedikit terik, tapi tidak seterik panas yang mengelabui hati si Watson, sang pemuda penggembala hidup.
Setelah beberapa hari melakukan blogwalking ditempat teman, seorang teman yang baru dikenalnya, yang begitu hangat menyambarnya. Dunia maya menjadi sedikit berbeda untuknya. “Ternyata ada tempat buatku untuk mewujudkan tempat teduh di dunia yang tak bertepi ini, dunia yang tidak ada batasannya.“. Sosok Watcen yang selama ini menaruh curiga tinggi terhadap dunia maya, akan setiap tindak tanduk tidak welcome berubah seketika.
Butuh hari-hari dimana saat dia mengunyah setiap cedokan nasi ke dalam mulutnya untuk merenung, saat ia berjalan, maupun mandi. (more…)
“Ching Ming” dan bakti seorang anak April 6, 2009
Posted by dinivian in Goresan, Reflection.5 comments
Semalam berlalu Viani menginjakan kakinya di rumah Tuhan, rumah yang mungkin menjadi tempat peraduannya saat gundah hati bergelora, saat gelisah membalut ketidakberdayaan akan pilihan didepan mata, saat kabut mata tidak mampu lagi memecahkan ketukan langkah selanjutnya. “Bai Dian” (jok sembahyang in Mandarin dialek) menjadi tempatnya bersimpuh, berserah diri akan kegalauan hati yang tak kunjung usai. Memohon ampun dan kekuatan yang tak mungkin bisa ia lihat tapi sebuah ketenangan bak pohon beringin ia bersandar.
Hari itu terlihat para hadirin lebih ramai dari pada biasanya. Memang, hari itu adalah sebuah hari besar yang mungkin orang “sekelas pemuda/i” Viani telah melupakannya. Jangankan kata ingat, mungkin tidak tahu sama sekali!. Ya, hari itu adalah hari terakhir sembahyang kubur (more…)








