Haruskah bisnis berbohong?… January 8, 2009
Posted by dinivian in Harian Itu.trackback
“Bisnis VS kebohongan”, benar itulah judul artikelku kali ini. Ini merupakan kejadian yang ingin kutuliskan daripada kusimpan di dalam hati…tar rugi sendiri..hahaha…

Liar is prohibited
Ya, ini ada kejadian yang kualami saat pergi dan kembali dari Jakarta, akhir tahun lalu dan awal tahun ini. Tidak tahu nasib ato bukan, tapi kejadian yang mirip harus terjadi saat saya kembali dari Jakarta. Semua sungguh diluar prediksiku. Hanya bisa kesal, marah, dan kata orang, “bersabar nak“… Kuputuskan untuk tetap kutulis, karena saya rasa tidak ada yang salah untuk itu, kita tidak perlu takut untuk kehilangan pendapatan alias penghasilan ato yang lebih dekat, kehilangan customer jika kita berbisnis dengan baik dan benar.
Saat hendak pergi ke Jakarta, batal menggunakan kereta, akhirnya kuputuskan untuk menggunakan jasa travel di sekitar Babarsari, yaitu Nyaman travel yang berlokasi di jalan Solo. Berhubung sudah malam mau jam 21.00WIB, Harmoko membawaku untuk membeli tiket di travel ini, dan kebetulan yang laen sudah tutup. Kugunakanlah travel ini. Sebenarnya, ini juga pertamakalinya saya keluar kota menggunakan jasa travel, dengan harapan juga bahwa saya dapat nyampe dengan tujuan lebih mudah tanpa harus drop sana-sini.
Awal beli tiket (seharga Rp.160.000,-) rasanya senang, karena besoknya saya sudah akan berangkat ke Jakarta buat liburan. Saat jam menunjukkan pukul 15.45WIB, mobil travel miliknya Nyaman travel tiba dengan mobil Pregio-nya, saat tidak timbul sedikit curigapun kalo mobil yang akan saya naiki tidaklah sesuai dengan saat saya memesan tiketnya. Karena saat saya pesan ukurannya lebih besar dan kapasitasnya lebih besar, lagian waktu itu saya duduk di bagian depan.
Rasa nyaman makin bermunculan saat tiba di tempat pemberangkatan. Seorang sopir mengatakan : “ntar kamu pindah ke belakang ya“. Secara spontan saya jawab : “iya“, nah mulai deh ngerasa kok disuruh pindah-pindah seh?…padahal waktu pesannya saya milih didepan, ditambah waktu perjalanan baru mau berangkat, mobil di-maintenance. Saya tidak tahu kenapa pada saat itu baru mau di-maintenance?. Sehingga waktu terus molor…molor and molor, ditambah hujan lagi… Sehingga menghabiskan sejaman untuk mengerjakan hal-hal yang menurutku sebenarnya tidak perlu dialami oleh penumpang. Kemudian mobil terus berputar mengangkut penumpang yang laen. Nah, yang terakhir kale adalah menjemput seorang cewek, nah saya juga bingung, sapa seh cewek itu?. Apakah penumpang?… Tidak jelas!. Akhirnya kuketahui cewek tersebut adalah salah satu pasangan sopir. Aku mencoba bersabar, dengan hal-hal yang menurutku sangat menggangu kenyamananku sebagai seorang penumpang. Dimana pelayanannya?.
Hal yang terparah adalah saat saya sudah tiba posisi di Jakarta. Saat itu kita tiba masuk di posisi Jakarta Timur, pasnya di depan TaMini. Nah dari sana, saya adalah penumpang terakhir yang akan diantar, namun saya harus menunggu kira-kira sejaman di sana menunggu mobil Pregio tersebut diperbaiki. Waktu itu jam menunjukkan pukul 09.50WIB. Ampun…berapa jam lagi kah saya harus beginian?, akhirnya salah seorang sopirnya memesan satu taxi dan memberikan uang Rp.70.000,- sebagai gantinya. Wew…ini tambah deh kesalku… Dan dia hanya berdalih bahwa mobilnya bermasalah masih diperbaiki. Akhirnya saya menaiki taxi itu, dan saya harus menanggung Rp.19.000,-, biaya yang seharusnya tidak perlu saya tanggung sebagai seorang penumpang. Sejak saat itu, mimpi deh bagi saya untuk naik travel ini lagi… Onde mande…capede…
Mimpi buruk belum berakhir saat saya akan kembali dari Jakarta. Awalnya saya ingin mencoba bis Rosalia, katanya seh good service (katanya lho…tapi saya belum pernah coba…), tapi karena full makanya saya mengalih ke bis laen. Lalu terlihat di depanku ada bis Safari Dharma Raya, karena sebelumnya sudah pernah naik (meski pernah kecewa sekali), maka saya pesan bis ini. Hampir 3 (tiga!, ingat! TIGA kali lebih) kali saya bertanya pada orang-nya apakah jalur ini lewat Janti Flyover di Babarsari Jogja?. Dia mengatakan iya dengan mantapnya. “Lewat kok, ntar kita ampe ke Jalan Raya Janti“, jawabnya dengan mantap, palagi dia bilang dia juga orang jogja. Saya mengeluhkan kalo dulu saya pernah di-drop nyasar ke tempat laen. Dia bilang, tenang aja, dianter kok. Situasi makin aneh saat perjalanan mereka melakukan pemungutan penumpang, dan saya yakin banget kalo itu adalah penumpang liar. Pertanyaanku?, apakah ini yang diatur oleh manajemen-nya?. Katanya meski 1 orang pasti dianter, benar kah?… Or hanya bullshit belaka?… Itu terus terjadi selama perjalananku ke Jogja. Kesabaranku habis saat tiba di Jogja, dari arah Jalan Magelang, orangnya tanya, “mas turun di terminal Jomborkan?“. Lhoh, bukannya lewat jalan Janti?, “Bukan, gak lewat“, tukasnya. Emosi deh aku, lalu kubilang, gimana sih bis ini kok bilangnya lewat tapi gak lewat?… Setelah mengomelin, langsung saya di drop. Ini merupakan ke sekian kalinya saya diperlakukan seperti ini.
Wuihh!!! rasa kesal dan marah bercampur, mimpi deh gue akan naek, bila perlu tak tulis ke surat pembaca. Atopun kabarkan untuk tidak naek bis ini!. Kepada pemilik usaha ato manajemen (Nyaman travel or SafariDharmaRaya), kalo gak mampu mengatur bisnis jalan dijalanin dunk!. Mending ditutup saja! Buat malu saja!, saya sebagai penumpang membayar dengan uang, meskipun hanya sekian ratus ribu, DAN bukan dengan meminta-minta!. Sebagai customer saya konsen dengan service bukan pada harga!, jika anda butuh lebih tinggi cost-nya, silahkan saja!, dan saya akan puas dengan apa yang saya bayarkan!. Karena saya percaya banget, kalo kek gini terus saya bisa jamin gak lama pasti bangkrut!, maaf, bukannya menyumpah!, tapi itu adalah fakta!. Bisnis yang penuh dengan kebohongan, siap-siap saja bisnis gulung tikar!. Ini sudah sedikit terbukti saat saya naik, dan penumpang hanya berdua!. Kalo takut tidak ada penumpang, gak perlu begini caranya. Asal pelayanan bagus, orang pasti suka.
Bagi yang membaca, mungkin terlihat sepele, dan kok saya harus protes seh?. Simple sih menurutku, sekecil apapun usaha dan bisnis yang kamu lakukan, lakukanlah dengan jujur, maka usaha anda pasti akan longlasting. Client/customer kita juga membayar dengan uang, jadi hargailah dan berikanlah sesuai dengan apa yang mereka bayar. Jika tidak mending tutup saja!. Saya kira itu adalah realita dan pelajaran hidup yang harus kita lakukan. Siapa bilang bisnis harus berbohong?. Bisnis berbohong tidak akan tahan lama. Ingat bro!, sekarang zaman globalisasi, service is number one!.
Salam bisnis yang jujur dari penulis.



sabar yee…. :p
Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang Cinta, silakan baca artikel Butir-Butir Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.
Lex dePraxis
Romantic Renaissance
oke…
memang itulah sifat manusia…
sebagai seorang penyedia jasa, memang sudah seharusnya kita memberikan service yang memuaskan pelanggan, itu adalah KEWAJIBAN…tapi kadang banyak pelanggan yang juga mintanya aneh2, bahkan kadang menuntut sesuatu yang sulit kita penuhi, apakah menurut anda itu fair ??, dijaman dimana EGO manusia sedang berada puncak tertinggi, bahkan sistem kapitalisme sudah mengakar dalam diri kita, UANG, UANG dan UANG saja yang kita pikirkan, maka hal tersebut lumrah terjadi, mau gimana lagi??
kalau dari kasus anda sih memang jelas penyedia jasa lah yang salah, saya juga pernah merasakannya, namun itu jadi pelajaran buat saya, dan mungkin sekarang ini banyak sekali bisnis-bisnis yang serupa (yang penting masuk duit dulu, protes belakangan) muncul karena INDONESIA adalah negara yang maunya INSTAN…
mau gimana lagi bro??
waiting for the END aja lah…wwkwkwkwk….
Jika berbicara ego, saya rasa hal itu sulit dikaitkan. Karena sebagai orang yang menawarkan jasa. Berarti anda siap untuk melayaninya, jika tidak; maka anda sebaiknya tidak melakukan itu. “Soal instan?“, “mo gimana lagi?“, saya kira itu bukan sebuah alasan yang tepat. Kawan, itulah penyebab kenapa kebanyakan orang-orang kita, maaf, mental bangsa kita tidak siap bersaing?. Kalo saya boleh bilang, itu mental kripik jeroan (kalo tempe masih mending, punya gizi tinggi dan baik), kalo ini malah gurih tak jelas isinya.
Di setiap hal yang kita lakukan tentunya ada sebuah pembelajaran lebih baik yang ingin kita capai, itulah langkah kemajuan hidup di dalam diri kita. Saya juga ingin katakan itu sebagai mental korupsi yang mengakar di dalam diri bangsa kita. Siap berubah untuk menjadi lebih baik ato tidak ada pada pilihan kita, dan hanya kita yang tahu. Berubah memang sulit, tapi jika tidak berubah maka kehancuran pun siap menyapu kita.
kecewa sekali, tak mungkin mengulangi lagi.
ini payah Indonesia, bukan hanya di sektor bus, banyak sektor yang membuat orang kecewa.
mungkin sudah tradisi ya…inilah yang membuat indonesia susah maju, lahap hari ini, besok lusa peduli amat!
semoga bisa didengarkan suara2 orang kecewa akan service mereka!
@ Ce Aling:
Yah, sebuah catatan dan koreksi buat birokrasi dan karakter negara kita yang telah berurat nadi dan butuh setrika khusus untuk meluruskan kembali…
Agar ia layak dan valuable untuk “melayani”…
Ada pesan lain yakni menjadi semakin berpengalaman dan berhati-hati dalam mengambil keputusan (bukan curiga tidak mendasar).
Disisi lain, hidup dalam komunitas sosial ada banyak faktor tidak bisa kita duga akan terjadi. Misalnya, saja si sopir bis 1 tidak janjian dengan ceweknya, dan pada hari itu Pregio tidak bermasalah, maka kejadian yang mengecewakan belum tentu Sdr alami. Begitu juga pada kasus kedua. Semua kejadian selalu saling berhubungan (dependende arising).
Hanya saja, kadang kesadaran kita turun, lalu muncullah emosi dan marah. Dan kita berharap semoga manajemen travelnya mau memperbaiki diri,bukan sebaliknya mengharap kebangkrutan.
-> other side opinion.
@nusantara: Terima kasih atas komentar saudara…
Senang bisa membaca comment yang membangun.
Sebuah intropeksi dan pengendalian diri juga hahaha…
Thanks…