jump to navigation

“Ching Ming” dan bakti seorang anak April 6, 2009

Posted by dinivian in Goresan, Reflection.
trackback
Childhod

Childhod

Semalam berlalu Viani menginjakan kakinya di rumah Tuhan, rumah yang mungkin menjadi tempat peraduannya saat gundah hati bergelora, saat gelisah membalut ketidakberdayaan akan pilihan didepan mata, saat kabut mata tidak mampu lagi memecahkan ketukan langkah selanjutnya. “Bai Dian” (jok sembahyang in Mandarin dialek) menjadi tempatnya bersimpuh, berserah diri akan kegalauan hati yang tak kunjung usai. Memohon ampun dan kekuatan yang tak mungkin bisa ia lihat tapi sebuah ketenangan bak pohon beringin ia bersandar.

Hari itu terlihat para hadirin lebih ramai dari pada biasanya. Memang, hari itu adalah sebuah hari besar yang mungkin orang “sekelas pemuda/i” Viani telah melupakannya. Jangankan kata ingat, mungkin tidak tahu sama sekali!. Ya, hari itu adalah hari terakhir sembahyang kubur (Ching Ming bagi kebanyakan orang), sebuah bentuk perayaan memperingati para leluhur dan almarhum orang tua bagi orang Tiong Hua. Bagi Viani, mungkin itu bukanlah sesuatu yang baru, karena sebelumnya ia telah sering mendengar dan mungkin melakukan ritualnya.

Tapi hari itu sedikit berbeda baginya. Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di dalam hatinya saat sebuah drama singkat tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya, bahkan kepada leluhurnya.

Dia teringat pada masa kecilnya, sepertinya dia belum pernah melihat seperti apa wajah kakek dan nenek. “Seperti apa gerangan mereka?“, Bagaimana “bentuk dan rupa mereka?”. Dia bahkan tidak tahu persis dimana makam leluhurnya itu persis berada setelah ia melalui proses “gejolak” batin yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelum ia “hadir”. Yah, memang dia harus melewati hari-hari yang penuh pertanyaan dan kerinduan. Pertanyaan yang akan selalu ada untuk menyelesaikan puzzle-puzzle kehidupan kecilnya.

Perayaan hari itu membawa sebuah pertanyaan penting bagi Viani untuk melangkah. Ching Ming bukanlah sebuah tradisi yang ada begitu saja, datang ke makam leluhur, membersihkan, berdoa, dan pulang. Dan cerita selesai sampai disitu!. Dan bukan pula sebuah ritual yang hanya menyembahyangi kubur itu. Sebuah tradisi belaka karena trend?

Tapi lebih jauh dari itu!. Wahai para budiman, Ching Ming adalah saat dimana kita mengingat jasa dan bakti leluhur semasa hidupnya (kakek-nenek ataupun orang tua kita sendiri yang telah almarhum) maupun kesempatan kita terhadap mereka yang masih hidup. Saat dimana kita dijaga, dibesarkan, diceboki, disuapin, dan segala macam tetek bengeknya. Hingga kita sebesar ini.

Xiao atau bakti adalah sebuah kata yang akan berlaku universal bagi siapa saja, warna kulit apa saja, bola mata kek, agama atau suku apapun. Ia sebuah arti trans: gender, agama atau belahan dunia mana saja.

“Apa yang bisa kulakukan selain mempersembahkan pelita suci bagi beliau yang telah tiada, agar terang disana?“, tandas Viani dalam hati. Belajar mengenang budi yang tersiram didalam setiap hembusan nafas kita menjadi insan yang lebih berarti. Proses perbaikan diri didalam setiap jahitan benang kehidupan, maupun setiap sulaman benang yang akan dilakukan nantinya.

Seperti kata Khong Hu Cu, bakti terutama adalah kepada orangtua dan leluhur. Bakti itu menjadikan kamu manusia yang lebih berarti. Manusia yang lahir dan bisa membawakan kehidupan ini terus ada.

Sebuah moment yang bagus dan seyogyanya terus kita lakukan:

Sebagai orang tua, sejauh mana saya menjadi contoh bakti buat anak-anak saya agar mereka menjadi insan yang berguna?.

Sebagai anak, sejauh mana saya membalas budi mereka, selagi mereka masih

bernafas?. Agar mereka bisa menikmati sisa hidup dari peluh penat membesarkan ku?… Bukan setelah menjadi sebuah nama maupun debu.

Miss for joy and happiness of family

Miss for joy and happiness of family

Viani tersenyum dalam hati sejenak setelah merenung semuanya. Ia berharap dan berdoa terus ada kesempatan dan jalan buatnya merintis kualitas hidup yang indah. Dan dalam rangkulan-Nya ia berserah diri.

*) Viani – seorang anak yang merindukan Tuhan.

Comments»

1. kweklina - April 8, 2009

Ching Ming, memang mesti dilestarikan…namun banyak orang mulai melupakan ritual penting ini.

Saya paling salut sama hari besar orang tiong hua, yang satu ini, Ching Ming.

Disini terlihat bakti seorang anak, walaupun sesibuk apapun, akan pulang untuk berdoa di makam leluhur.

Dondi :
Seepp ce…
Jadi teringat satu episode ceritanya Judge Bao (New version – cont from old one), disana Ibunda mengingatkan putera mahkota untuk menjadi orang yang punya Bakti, bakti modal awal untuk bisa memimpin diri maupun rakyat…

2. Rychan - April 8, 2009

Salam kenal bro….makasih dah mampir ke blogku…. have anice day

3. nusantaraku - April 8, 2009

Asli dari mana Bro. Terima kasih telah mengunjugi blog saya.
Ching Ming di bodhicitta yah?


@nusantara:
Haha…u’re welcome…
Iya, di bodhicitta.

Asli Riau bro.. ;) .
Nb. Jangan gentar untuk maju!, membela dan mengembalikan nilai yang benar.

Salam hangat!.

4. nusantaraku - April 8, 2009

Ohh….
Hmmm….. Bengkalis, Dumai or ?
I’m from Riau too.. Nice to know u.
Nb:O,ya comment saya yang pertama di delete saja (yg kurang lengkap)

@nusantara:
Haha… Asli dari Siak, RiDar, lama di Batam.

Btw, kamu dari mana?. Habis dari about blog mu saya tidak bisa mendapatkan “informasi lebih“.. :D .
Backgroud komunikasi or Fisipol yach?…bahasane bernuasa politis…haha

Okay, akan ku hapus…thanks…

5. nusantaraku - April 8, 2009

Hmm..my name is Endrawan.
I’m still students. Not communication or political science, but engineering..
I will post my photo after 1 year of my blog celebration.
Just like another issue, like fact, data, n opinion…
Xie-Xie


Oh.. i c..
Oke deh…keep on blogging!, nice ‘ve a little chat with u…
Oh ya, tukeran link dunk… :D

Wah 1 taon?… mantap tuh…hahahaha… Moga makin rame deh… :D .
Kapan celebrationnya tuh?, biar tak bantu ramein…hihihihi…