jump to navigation

Surat untuk seorang Watcen April 8, 2009

Posted by dinivian in Words of Love.
trackback

Siang ini cuaca sedikit terik, tapi tidak seterik panas yang mengelabui hati si Watson, sang pemuda penggembala hidup.

A letter for a pal

A letter for a pal

Setelah beberapa hari melakukan blogwalking ditempat teman, seorang teman yang baru dikenalnya, yang begitu hangat menyambarnya. Dunia maya menjadi sedikit berbeda untuknya. “Ternyata ada tempat buatku untuk mewujudkan tempat teduh di dunia yang tak bertepi ini, dunia yang tidak ada batasannya.“. Sosok Watcen yang selama ini menaruh curiga tinggi terhadap dunia maya, akan setiap tindak tanduk tidak welcome berubah seketika.

Butuh hari-hari dimana saat dia mengunyah setiap cedokan nasi ke dalam mulutnya untuk merenung, saat ia berjalan, maupun mandi. Tidak habis ia bertanya, bertanya… “Sebenarnya saya punya pilihan untuk melakukannya. Saya punya pilihan untuk merespon apa yang terjadi pada saya dan lingkungan saya…“.

Kilas balik ke masa lalunya tidak henti-hentinya terus mengalir… “Sebenarnya apa yang telah berubah dari saya?“. Mengapa sekarang ia serasa lebih “kelam dunianya” ketimbang awal jenjang ia memasuki sebuah perguruan tinggi disebuah perguruang tinggi. Sebuah tahapan baru baginya untuk belajar meng”analisis” diri.

Pelajaran pertama ketika menginjakkan kaki disebuah tempat tenang nan indah. Tempat yang mungkin hanya bisa dirasakan ketika ia menenangkan diri dari kegalauan hati. “Cobalah tersenyum kepada siapa saja”, kata orang itu kepadanya saat ia mengikuti sebuah diskusi. Benar!, Watcen melakukannya itu terus menerus, sampai-sampai ia tidak menyadari dampak apa yang ia dapat dari sebuah senyuman itu.

Kemana ia pergi, dengan siapa ia bertemu senyum adalah sapaan pertamanya. Kadang temannya mengganggu, “kamu bukan menggodanyakan? “, seraya memergoki Watcen dimana mereka men-fotokopi berkas-berkas yang diperlukan. Hari-hari dilewati tidak begitu terasa… Waktu berubah, detik berganti menit, berganti jam…dan semuanya berubah.

Tugas demi tugas ia kerjakan dengan baik demi menuntaskan amanat yang diberikan oleh keluarganya. Bahwa ia harus menyelesaikan studi tersebut dengan baik. Mandat itu ia pegang penuh di dalam setiap krikil-krikil tajam yang menganggu telapak kakinya. Bukanlah tanpa keluhan, Watcen juga layaknya pemuda pada umumnya, tidak ada yang unik dan special, hanya sesosok yang terus belajar mencari arti hidup dan jati diri. Sebuah proses pergumulan hati dan gejolak yang tiada henti mengekang dirinya. Saat semua bercampur menjadi satu, dihadapkan pada lika-liku persahabatan, saudara, keluarga, maupun percintaan. Ia harus membetulkan kembali benang-benang yang kusut karena sulaman yang salah akibat marah, ego, tertekan, dan ketidakpuasan.

Tanpa disadari apa yang mengelimuti tantangan telah pelan-pelan mengikis sosok Watcen… Perubahan tanpa ia sadari, bahwa itu telah terjadi, berjalan, dan tanpa henti…

Sebuah senyuman yang tak ia duga saat kembali akan men-fotokopi berkas-berkas yang ia butuhkan untuk urusan administrasi studi akhir. Orang-orang dan staff itu tidak sedikitpun ragu untuk menampilkan sebuah senyuman kepadanya, saat ia menyodorkan kertas bertuliskan Ijazah, dan kawan-kawannya. Namun tiada ekspresi mimik maupun secuilpun dari kulit ari wajahnya. Ia tampak begitu serius dan cool bak gunung yang menjulang tinggi. Tidak seperti lagi Watcen yang mungkin dulu merekan kenal begitu ramah dan penuh senyuman. Terlepas dia lagi sedih atau marah ataupun kesal dengan orang lain, dia bukanlah Watcen yang dulu…

Aku telah berubah!, berubah…“, kenangnya dalam sebuah malam yang hening.

Mengapa kail-kail ini tidak pernah berhenti datang untuk mencabik-cabik hatiku?“, “Tuhan…sampai kapan aku akan seperti ini?…“, gumam Watcen di dalam hati, meski kadang keluar dalam bisikan…

Sering sebuah deraian air mata yang keluar tanpa ia sadari. Saat larut dalam sebuah keputusasaan akan tembok-tembok penghalang yang menghadangnya. Ujian mental dan perasaan…datang, dan seolah ia begitu rapuh tak mampu menopangnya. Ia bak sebuah sebuah fondasi rumah yang terus digerogoti rayap… yang mungkin siap akan runtuh di suatu saat jika tidak diberikan pertolongan…

Agar aku gunung yang tak tergoyahkan

Agar aku gunung yang tak tergoyahkan

2 hari cukup penting buat Watcen habiskan dengan renungan dan pertanyaan yang tiada henti mengalir dalam hatinya yang haus akan ketenangan…

Watcen rindu akan jiwanya yang mampu memilih…

Memilih akan apa yang terjadi padanya maupun ketika ia harus mengayunkan pijakan untuk maju langkah demi langkah…

Ia rindu akan Watcen yang pernah dikenalnya saat mengerti sebuah senyuman dan kasih pada orang lain… Ia rindu akan ketegaran hati yang kuat mengikuti terjangan badai selagi raga ini masih ada… dan selagi nafas itu masih berputar-putar di dalam bilik-bilik paru. Dan darah di dalam nadi-nadinya…

Surat sahabat untuk seorang Watcen…

Jogjakarta, 8 April 2009.

Comments»

1. kweklina - April 10, 2009

pancarkan senyummu tanpa pamrih
seperti sinar mentari yang tak pernah meminta balas
tegarlah kau seperti karang
walaupun gelombang datang mencabik-cabiknya dan air asin terus berusaha mengikisnya
bahagia ada di ruang terkecilmu
bahagia adalah hal sederhana
tak terlihat jika kamu ingin melihat yang megah
karena bahagia terhimpit dalam kesehajaan dan rasa syukur!

Dondi: :) and ;)

2. Fan - April 10, 2009

salam ..

thanks udah ke blog aku ….

nice blog … berbayar ya ?


@Fan:
Thanks udah mampir…tidak ada minuman special di gubuk ini…hanya air putih yang bisa kusediakan…”rasanya tawar”…
Oh, ndak berbayar, gratisan punya kok… :D .

*Butuh ayunan lebih banyak untuk sampai*..:D
Thanks udah add…
Semoga bisa belajar lebih banyak dengan anda…

Salam hangat…
Cheers…

3. Honk - April 13, 2009

Senyuman hangat slalu mendamaikan hati…
siapapun anda…akan terlihat jauh lebih mempesona…
“Anda akan slalu dicintai semua orang…” – like Dondi…hehe…

I Love ur blog bro…..penuh inspirasi !!! :) )

Hahahaha…ada ada aja kamu bro… :D , thanks… don’t forget to sharing …