Vegetarian tidak bikin kamu pergi ke surga June 16, 2009
Posted by dinivian in Goresan, Reflection.trackback
Ada yang aneh dengan judul artikel ini?….hahaha…tenang dulu guys, jangan cepat mengambil kesimpulan untuk ini semua. Let’s trace it!
“Vegetarian tidak bikin kamu pergi ke surga”, tukas seorang rekan kerjaku. Tersentak disaat dia mengucapkan, saya kira dia hendak melemparkan bola panas.
Tapi ternyata itu adalah obrolan spontannya dengan rekan di depan mejanya. Kata-kata tersebut terus terngiang dalam ingatan dan memanggil memori lamaku beberapa waktu lalu, ketika banyak sekali goresan yang hendak kubagikan. Tersimpan begitu saja di salah satu sudut ruang yang mungkin saja akan meledak begitu saja jika tidak terjaga dengan baik.
Tidak bermaksud mengkritisi maupun menggurui tapi, berharap menjadi sebuah cenderamata yang bisa dibagikan buat siapa saja. Ketika sebuah pilihan untuk memasuki sebuah pola hidup yang kurasakan, banyak pertanyaan yang coba kulontarkan akan setiap option yang saya pilih itu. Apa yang saya cari, misteri-misteri hidup yang kadang tersimpan begitu rapi untuk saya korek, begitu banyak puzzle-puzzle timbul tiada henti terus mengalir. Bertanya kepada diri tanpa unsur emosi adalah bekal untuk mencari jawaban kepada sang hati.
Ketika ditempat ibadah kita diajarkan bagaimana bersikap dan bertutur, serta sebuah pilihan yang indah untuk memulai hidup melepaskan cengkeraman kemelekatan lidah atas pengorbanan darah itulah sebuah kesempatan babak baru untuk dimulai (ex. vegetarian). Sebuah pilihan untuk dapat exists tanpa ada yang mengorbankan yang lain, pilihan untuk tertawa tanpa HARUS ada yang menangis. Kebersamaan untuk bisa berbagi walau berbeda wujud dan rupa. Sungguh sebuah pilihan yang indah, TAPI sekali lagi pilihan itu memang tidak mudah.
Travelling beberapa waktu lalu menimbulkan KEMBALI banyak pertanyaan yang sebelumnya pernah menyelimuti keraguan akan setiap pilihanku, dan apa yang saya jalankan. Sempat ragu, apakah memang itu akan membawa perubahan yang lebih baik untuk diriku dan jiwaku yang haus untuk berkontak dengan-Nya. Sulit memang untuk menemukan jawaban itu. Pemandangan yang menyesakkan selalu saja menjadi batu krikil untuk melangkah. Tidak bisa dipungkiri, apa yang kita lihat sangat mempengaruhi apa yang akan kita jalani, ditambah lagi ibarat sebuah pohon muda yang sedang mencari arah kemana ia tumbuh dan mengokohkan akar-nya. Bekal untuk bisa tumbuh dan bertahan ketika ada terpaan badai datang.
Misi mengajarkan kita untuk lepas dari ikatan daging, membawa dunia kepada satu keluarga, bukanlah sebuah celoteh belaka, tapi sebuah pilihan indah untuk kita. Mengapa saya katakan sebuah pilihan?. Karena kata pilihan itulah, saya katakan misi itu tidak mudah?. Kita sangat mudah sekali untuk mengucapkan, terlebih saat berada dilingkup satu “ras” ato lebih jelasnya tempat ibadah!, tapi cacatnya kecakapan kita untuk merealisasikan di LUAR ruang lingkup itulah masalahnya. Kita sangat mengerti dan bahkan tahu bahwa misi itu sangat indah. Tapi kita jarang berkaca kepada hati kita. Dan pada akhirnya yang “mengerti” hanyalah mulut kita, bukan pada komponen yang lebih penting yakni hati itu sendiri.
Kita sangat mudah berceloteh ini baik, mulia, dan segala macam embel-embel-nya. Tidak sadar akan teori itu ketika kita dalam keluarga, saudara, maupun teman. Lupa pada bagaimana kita berhadapan dengan suami, isteri, anak, ponakan, saudara, mertua, menantu, rekan kerja, dan lingkungan.
Satu-satunya cara untuk mengajak adalah dengan memberi contoh dan teladan. Hanya itu kuncinya, bukan dengan jualan koyok disana sini. Sama seperti pemilu, mereka butuh realisasi dan bukan janji.
Sudah menjadi tugas kita untuk melakukan hal “lebih”, dan itu tidak bisa dipungkiri. Iya, memang, kita juga manusia dan bukan dewa ataupun malaikat, tapi sebuah duty yang mau atau tidak kita HARUS lakukan. JIKA, ingat…jika dan hanya kita tidak ingin menjadikan hal itu semacam jualan koyok belaka, dan mewujudkannya menjadi sebuah misi yang kita imani untuk hidup ini.
Pattern masyarakat telah tertanam sejak lama, mungkin ada hal-hal yang bertentangan dengan pilihan kita. Tanggung jawab kitalah untuk meyakinkan itu semua BAIK dan BENAR. Tidak hanya soal keyakinan dan alasan apapun yang kita bawa untuk bervegetarian, TETAPI sebuah tanggung jawab moral lebih bagi kita untuk merangkul mereka semua. Ini lho…baik dan benar. Dan dengan begitu…misi yang kita impikan tidak akan menjadi impian selamanya. Tapi benar hari itu akan ada, dan juga kita yakin dengan pilihan jalan itu
Penulis bukanlah orang yang telah mampu menjalani itu semua, tapi ini adalah sebuah wujud keprihatinan melihat realita yang terjadi. Meski tidak mayoritas terjadi, namun cukup mengusik. Dan tentu tidak ada salahnya kita belajar untuk mengikir itu semua. Mengikir semua daki-daki kotor yang patut untuk dibuang dan dilepas jauh-jauh.
Ingat sekali lagi, memang kita bukan dewa atau malaikat, tapi kita memiliki sesuatu yang disebut niat dan itikad untuk membawa perubahan yang lebih baik. Dan pilihan untuk merubah dan melakukannya ada ditangan kita.
Sebuah pesan singkat…moga bisa menjadi refleksi bagi siapa saja…
“Look after yourself Don… Don’t ever stop to question thyself what is really matter we should achieve in this life. That would help you to know when to to flow whenever we path across difficulties in this life. Learn to deal with everything, happiness or miserable. Zoom them as a gift of life thereafter we can step easily, wisely on each moment. Get used khou-shou, this is our only way to keep contact with ourselves.
Take care stay healthy and take a good nap everynite may Maitreya lead u how to be the wisdom one…”
(30-Apr-2009 – 08:21:07) 57368.
(By a friend before I left a lovely land in Java).
We are dynamic!. And listen to your heart…
“Janganlah telinga/ bibir yang mencapai tingkat pencerahan”.
Dinivian Dondi.
Medan, 16 Juni 2009.




Comments»
No comments yet — be the first.