Jalan itu pilihan – Bagian 1 July 18, 2009
Posted by dinivian in Goresan.trackback
Ketika jalan itu engkau pilih, maka anda harus siap dengan segala konsekuensi dari pilihan itu. Dan setiap benda itu memiliki dua sisi tidak terkecuali pada logam.
Bukan sebuah keputusan yang mudah memang, ketika daku memutuskan untuk menjalani hidup meatless. Dan daku tidak pernah membayangkan akan ada hari ini dengan apa yang telah dijalani, waktulah jawaban akan semua itu. Proses ukir dan pahat yang tiada henti, sampailah pada sebuah titik dan puncak, daku memilih jalan ini. Per Juni 2004 itulah daku melepas itu semua. Meski sebenarnya hingga saat ini juga belum ikrar, sebuah pilihan yang barang kali tidak main-main untuk dijalani terutama berkaitan dengan persoalan iman. Tidak mudah memang, dan daku belum siap untuk itu. Waktu yang akan menentukannya.
Tantangan pertama tidak lepas ketika bau-bau menyengat di pinggiran warung tambal sekitar Babarsari saat daku akan pergi makan malam. Hari demi hari ujian itu terlewati.
Ada satu hal yang paling mendasari pilihanku terlepas dari soal iman dan embel-embelnya, termasuk mungkin saat ini saya lebih mengerti dari sebelumnya tentang karma kehidupan. Diusiaku yang mungkin tergolong kecil, saya sering bermain dengan babi peliharaan dan anak-anak babi yang dibesarkan oleh kami pada waktu luang, biasanya pada waktu sore hari. Mereka telah diberi makan dan dimandikan. Namanya juga babi pedaging, tentu gemuk-gemuk putih dan menggemaskan. Senang sekali bisa mengganggu mereka dan menarik perhatian mereka disaat mereka sedang istirahat (habis makan), baring dan melihat kita lewat didepannya.
Kadang duduk diatas badan babi itu, dan biarkan dia terbangun agar bisa bikin rebut sana-sini. Kadang mereka juga menjerit supaya yang laen bangun. Lucu sekali mereka, walaupun pada waktu itu yang saya tahu mereka hanyalah babi-babi, dan mereka diternak untuk menghasilkan uang.
Hingga saat ini saya masih ingat bagaimana wajah-wajah babi-babi yang sering saya ganggu setiap sorenya ketika saya masih kecil. Kasarnya, saya jadi kan mereka tempat untuk bisa membuat daku tertawa.
Waktu berjalan…dan babi-babi itu pun bertambah besar, dan tibalah pada sebuah waktu-waktu yang banyak dinantikan oleh orang-orang dan bukan terutama untuk babi-babi itu. Itu adalah masa hidup yang sungguh menyedihkan dan harus mereka hadapi.
Mereka sudah besar dan sudah siap untuk dijual dagingnya. Saatnya dimasukkan kedalam kerangkeng rotan yang sudah dirajut sedemikian rupa untuk memasukkan babi ke dalam agar mudah dijagal. Waktu sekitar jam 10-an gitu. Mereka telah ditimbang beratnya, 100kg ataupun lebih. Sebuah pisau belati sepanjang 12 inchi yang diasah mengkilap telah siap menunggu disana. Rasa sedih telah muncul saat mereka akan dimasukkan ke dalam kerangkeng rotan. Bercampur semuanya, sayang dengan seekor makhluk mungil putih, lucu, dan imut bernama babi. Hidupnya akan segera akan diakhiri.
Teman-teman sekalian, apakah saya terlalu meng-hiperbola-kan perasaan dengan seekor babi yang katanya hanyalah seekor babi. Tapi…saya tidak tahu kenapa, saya tidak mampu melihat itu semua. Tidak bisa…dan sungguh tidak bisa… Sebelum pisau belati itu dihunuskan ke leher sang babi…saya akan berlari jauh…sejauh mungkin hingga saya tidak bisa mendengarkan teriakan dan jeritannya ketika digorok. Saya tidak memiliki kekuatan untuk mendengarkan jeritan dan tangisan itu. Sungguh…tidak ada kekuatan itu. Jika ditanya, apakah kamu bukan pria? Saya kira…yang lagi saya hadapi bukan masalah gentleman atau apalah. Tapi sesuatu yang sungguh-sungguh…saya tidak bisa membohongi kata hati saya. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah…serasa leher saya yang digorok (ketika sang babi itu digorok). Ngeri sekali, dan saya merasa lemas. Itulah…kenapa saya akan berlari sekian ratus meter hingga saya tidak bisa mendengar jeritan tangisnya sewaktu digorok dan bila perlu akan menutup telinga rapat-rapat seperti orang yang tidak tahu itu semua.
Hal yang sama terjadi ketika bibi sedang memotong ayam untuk dimasak. Saya tidak akan pernah bisa duduk didepan diam-diam menatap ayam tersebut digorok, lompat-lompat dan kemudian mati. Karena rasa yang sama seperti yang saya alami pada saat penjagalan babi. Saya juga pernah memelihara ayam dan sejenisnya. Dan tidak pernah bisa menyantap daging ayam tersebut, jika daging tersebut adalah ayam yang saya jaga dan pelihara dari kecil. Pernah beberapa kali berontak dengan keluarga, ketika ayam kesayangan itu akan dipotong. Dan ternyata ayam tersebut lewat, namun…tentu itu tidak berlangsung lama. Mungkin hanya ayam-ayam tertentu yang bisa survive, sedangkan sebagian tidak.
Abang tertua juga TIDAK akan menyantap daging tersebut, jika ayam itu adalah hasil peliharaan dia. Jadi jika ingin dia menyantap, jangan pernah memberitahu dia bahwa itu adalah ayam yang dibesarkannya.
Kejadian diatas adalah proses dan pengalaman nyata yang saya alami. Pernah melihat dengan jelas didepan mata tanpa alat Bantu apapun (film or any else), bagaimana seekor babi itu digorok, ayam digorok. Melompat-lompat lalu mati. Bukan juga hasil dokumentasi yang pada saat berada dipulau Jawa saya meng-ekplore lebih jauh. Tapi adalah realita nyata yang pernah dialami.
Memang…waktu itu masih terus mengkonsumsi…karena ketidak-”mengertian” itulah…saya terus menjalaninya…tanpa ada sebuah kesempatan atau proses yang bisa saya lakukan untuk mengolah informasi itu. Yang saya tahu waktu itu (dan paradigma yang telah mengakar), hewan itu ada untuk dimakan dan kita kuasai. Kita berhak untuk itu.
Tapi…saya lupa akan sesuatu…lupa akan sebuah panggilan yang paling mendasar yang muncul dalam hati saya saat itu. Ketika saya tiada kuasa untuk melihat bagaimana sebenarnya mereka berontak untuk bisa survive, mereka punya keinginan yang sama seperti saya… “ingin hidup”…
Dan sampailah saya sampai pada sebuah tempat peraduan, dimana saya melanjutkan pendidikan tinggi saya. Sebuah kota pelajar yang terkenal, tempat bagi saya untuk mengolah diri dan bertanya kepada diri sendiri dan hati…apa yang menjadi pilihan dan keinginan saya selama ini. Belajar untuk melihat dan mengolah setiap informasi yang selama ini saya serap dan terima, baik yang telah menjadi paradigma maupun yang akan saya lewati kedepannya. Sungguh…sebuah proses yang sejujurnya…hingga detik ini saya menekan tuts papan ketik ini, saya tidak akan pernah bisa melupakannya.
Dinivian Dondi,
Palembang, 18 Juli 2009.






Comments»
No comments yet — be the first.