Jalan itu pilihan – Bagian 2 July 18, 2009
Posted by dinivian in Goresan.trackback
Sebuah paradigma lama yang memandang bagaimana seekor babi dan sejenisnya adalah diciptakan sebagai makanan bagi kita. Dan itu telah tertanam terus-menerus menjadi sebuah tradisi ditambah ketidakpernah puasan sejengkal lidah untuk terus mencicipi.
Saya tidak akan membahas panjang lebar soal itu dari berbagai sudut pandang dengan seribu satu macam alasannya. Saya hanya akan menulis melalui alunan, irama, dan intuisi kehidupan yang pernah saya lalui. Terlalu jauh untukku membahas itu, dan mungkin barangkali saya tidak punya kapasitas untuk membahas itu semua.
Sebuah kesimpulan terbesar yang akhirnya semakin jelas dari riak-riak air yang selamanya ini keruh begitu saja. Panggilan hati, kata “tak kuasa” melihat itu semua, dan bagaimana rasanya jika saya adalah seekor babi?… Saya tidak siap!. Sungguh saya tidak siap. Sungguh menyakitkan…dan menderita.
Dear all…itulah alasan dan faktor terbesar yang mempengaruhi pilihanku hingga saat ini. Sebuah kedamaian dan keindahan tersendiri bagiku ketika saya bisa menyanyikan kemuliaan Tuhan bersama dengan mereka. Bagaimana rasanya bermain-main dengan anak babi yang lucu-lucu dan imoet-imoet. Sebuah suasana tanpa jerit tangis dan darah untuk hidup yang sukacita.
Berjalannya waktu, bertambah hal-hal yang berkaitan dengan iman, dan bagaimana lingkungan dan seterusnya. Bagi saya, mungkin itu persentase-persentase lain yang turut mendukung.
Saya hal yang jelas, dalam setiap pilihan (hati) itu, saya serahkan dalam pengaturannya. Berikan kuasa-Mu bagi hamba untuk menjalani ini semua. Tidak banyak yang bisa kuharapkan memang. Hanya doa yang terus bisa dihaturkan dalam setiap penantian ini…
Dan sampailah saya pada detik dimana saya memasuki sebuah dunia aseli (kata dagadu…
), jungle, a real world. Jujur…dan memang saya akui…pilihan hidup bervegetarian dalam dunia kerja tidaklah mudah, mayoritas akan kalang kabut dengan hal kecil itu. Masalah kecil tapi kadang cukup merepotkan. Saya sendiri tidak tahu, apakah ini pengaturan Tuhan atas setiap doa-doaku… Hanya berharap setiap jalan adalah petunjuk terbaik dari-Nya. Mencoba untuk bersabar mencari, hingga singgah pada sebuah kota di Sumut, dan masuk pada sebuah perusahaan besar. Tidak terjadi kesulitan yang berarti untuk mencari makan, baik breakfast, lunch maupun dinner. Semua berjalan mulus, environment kerja yang mendukung dan colleagues yang bersahabat.
Hanya sebuah senyum dari hati yang terdalam kepada-Nya ketika saya merenungkan itu semua. Tiada kata-kata yang lebih untuk bisa mengungkapkan itu semua.
Jujur, memang inilah salah satu hal yang menjadi was-was ketika saya menjalani pilihan hidup ini. Ketika saya memasuki a real world, bisakah saya survive dengan baik?.
Eksistensi seseorang yang bervegetarian, bahwa ia bisa beradaptasi dengan baik dimana dan kapan saja.
Dan ternyata sebuah dukungan-Nya…saya terus bisa melangkah dan dimudahkan jalannya. Kepasrahan jiwa yang saya berikan dalam setiap detik untuk melangkah dan berkontak dengan sang pemilik jiwa ini.
Terima kasih Tuhan,
Budha Maitreya…
Dinivian Dondi,
Palembang, 18 Juli 2009.





Comments»
No comments yet — be the first.